http://herrianspd.blogspot.com Selamat Datang di BLOG DPSD, Mohon Kesediaanya untuk mengisi Buku Tamu dan Komentar!Terima kasih DPSD: "Melajang/Menjoblo Di Usia 27 - 30-an, Apa Benar Itu Adalah Sebuah Pilihan Pria/Wanita?"

Senin, 23 September 2013

"Melajang/Menjoblo Di Usia 27 - 30-an, Apa Benar Itu Adalah Sebuah Pilihan Pria/Wanita?"

Dikutip dari  Karya : Laura Khalida http://tentang-pernikahan.com 
Dikembangkan oleh http://herianspd.blogspot.com


Perkawinan. Teman, pasti sudah ngerti, tahun ini umur saya bertambah apa berkurang? Usia 25 - 30 tahun Kenapa? Karena di usia ini saya masih melajang. Kalau tahun-tahun lalu saya memaksakan diri untuk menikah, apa jadinya ya?

Tapi, tidak bisa di pungkiri pada usia-usia ini rentan mengalami masa-masa melow menjelang dan setelah angka parno itu menghinggap.

Coba nonton saluran ‘Cinta’ di O’Channel dengan tema “Melajang di usia 30”. Nara sumbernya adalah Ratih Ibrahim. Dalam acara itu dibahas polemik mengapa sekarang banyak orang (baik pria maupun wanita) masih melajang di usia 27 - 30-an? Tapi karena kebanyakan wanita yang paling ‘sensi’ soal beginian, maka pembahasan lebih banyak ke urusan perempuannya.

Si Ibu Ratih berkata, dulu ada eranya di mana perempuan yang sudah menikah saat usia 20 an, maka akan dibilang laku, hebat, menikah merupakan prestasi. Jadi jika saat itu ada wanita hampir usia 30 belum menikah, ia akan merasa rendah diri. Tapi sekarang, eranya sudah bergeser. Wanita lebih memilih menyelesaikan pendidikan tingginya, lalu bekerja, kemudian menikah. Jadi, deadline menikah mereka menjadi mundur, nanti saja usia 27 or 28 baru mikir nikah.

Tetapi, ketika usia sudah mencapai angka deadline, jodoh belum teraih, maka mulailah ia panik. Mengapa? Karena menikah masih dianggap sebuah pencapaian, sebuah prestasi, dan mungkin sebuah ujung dari kehidupan, terutama bagi wanita. Kemudian, mereka akan berpikir dari segi reproduksi, waduh.. gue udah 30 an nih, masih mungkin tidak ya hamil dan melahirkan? Bukankah resikonya lebih besar. Atau ‘ancaman’ bahwa perempuan yang belum hamil, melahirkan, dan menyusui di usia resiko itu akan mudah terkena penyakit kanker payudara dan kanker rahim.

Kalo pria di umur 35 belum nikahpun dia masih tenang-tenang aja, ya karena masa reproduksi dia masih panjang. Sampai umur 60 juga masih bisa menghamilin perempuan. Tetapi ada juga pendapat yang mengatakan seorang Pria di umur 27 tahun belum mempunyai penghasilan, apalagi berumah tangga, Pria tersebut bisa dibilang Pria yang gagal.

Kemudian ada beberapa hal lain yang membuat wanita menjadi panik dan parno jika ia belum menikah di usia 30-an, selain faktor reproduksi dan kesehatan, yakni: Standar yang sudah ditentukan diri sendiri, bahwa ia harus menikah di usia 20 an, kemudian tuntutan keluarga terutama dari orang tua yang menginginkan cucu dan tuntutan lingkungan, dan masalah pencapaian tadi.

Sehingga jika jodoh belum dating-datang padanya, maka si wanita lantas menjadi panik, dan seolah ‘kejar setoran’. Yang di khawatirkan, ia akan bertindak gegabah, hanya mementingkan emosinya, siapa saja oke deh, yang penting menikah!

Padahal menikah mengandung konsekuensi, kewajiban, dan tanggung jawab yang tidak mudah dan ringan. Menikah jangan di pikir enaknya aja. Apa-apa yang bisa dikerjakan saat lajang, belum tentu diperoleh saat telah menikah. Jika ia menikah karena alasan tidak laku? Dari pada saya nunggu lagi padahal umur udah segini, dan alasan-alasan lain yang ridak rasional, di takutkan pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan.

Pertanyaannya, mengapa banyak pria dan wanita masih melajang di usia 27 – 30 tahunan? Karena posisi wanita dan pria sudah semakin meningkat, semakin seimbang, membuat perempuan mencari teman hidup yang bisa mengimbanginya. Pendidikan perempuan semakin tinggi, karirnya semakin berkembang, tapi ia masih menuntut mendapatkan jodoh yang lebih tinggi dan lebih baik darinya. Sehingga kesempatannya lebih kecil dan ada anggapan apa, jangan-jangan kualitas pria dan wanita sekarang yang malah menurun?

Kalau mencari yang setara dan cocok, mungkin kesempatan itu lebih lebar. Tidak bisa di pungkiri juga, sebagai lajanger di usia 27 – 30an, kadang malah kita yang di salahin. Kalo ketemu temen lama yang sudah punya anak dan dia tau kita saya belum menikah, komentarnya biasanya:

“Kapan lagi nikahnya???”

“Milih-milih kali…”

Menyakitkan memang, di tanya sama teman seperti itu, paling-paling bisa menjawab dengan “belum sampai aja jodohnya tu” atau “belum ada aja seorang pria/wanita yang beruntung mendapatkan saya”

Di bilang pemilih, tidak juga! Setiap orang pasti punya pilihan dan kriteria, sepanjang masih wajar. Apakah lantas karena usia sudah menginjak angka 27, kita main sabet yang ada di depan mata? Hanya demi menikah di usia yang kita inginkan? Bagaimana kalo jadinya pernikahan itu nggak membawa manfaat, hanya membawa mudharat? Nggak ok juga kan?

Misalnya ada seorang pria begajulan, kelakuannya nggak bener, namun dia cinta mati sama kita dan ngajak nikah, karena usia sudah parno, lantas kita terima dia? Begitukah pernikahan?

Ini juga menjadi problem mengapa pria dan wanita sekarang masih melajang di usia 27 - 30-an. Kadang kita suka gengsi kalo di carikan atau di jodohkan orang. Seolah tidak laku, atau tidak punya pilihan sendiri. Padahal cara Islam pun seperti ini. Saya tidak anti di kenalkan seseorang lewat perantara, termasuk dari orang tua.

Mbak Ratih juga berkata, open your self. Bergaul dengan banyak orang, banyakin temen.

Setiap proses dengan pria/wanita, jika mengalami kegagalan, sakit hati lebih ke kasihan kepada orang tua, rasa kecewa. Melihat orang tua semakin tua, kita semakin takut kehilangan mereka. Waktu dengarin Mamak ngomong dengan nadanya yang santai, “kapan lagi cari kawan tidur, mamak sudah tua, tak tau sampai kapan umurnya, nanti tidak ada yang ngurusin”. Bagaimana perasaan kita???

Jadi, benarkah melajang di usia 27 - 30-an itu adalah sebuah pilihan? Bagaimana dengan pendapat teman-teman sekalian???

Tidak ada komentar :

Posting Komentar