Dikutip dari Karya : Laura Khalida http://tentang-pernikahan.com
Dikembangkan oleh http://herianspd.blogspot.com
Perkawinan. Teman, pasti sudah ngerti, tahun ini umur saya bertambah
apa berkurang? Usia 25 - 30 tahun Kenapa? Karena di usia ini saya masih
melajang. Kalau tahun-tahun lalu saya memaksakan diri untuk menikah, apa
jadinya ya?
Tapi, tidak bisa di pungkiri pada usia-usia ini rentan mengalami masa-masa melow menjelang dan setelah angka parno itu menghinggap.
Coba nonton saluran ‘Cinta’ di O’Channel dengan tema “Melajang di usia
30”. Nara sumbernya adalah Ratih Ibrahim. Dalam acara itu dibahas
polemik mengapa sekarang banyak orang (baik pria maupun wanita) masih
melajang di usia 27 - 30-an? Tapi karena kebanyakan wanita yang paling
‘sensi’ soal beginian, maka pembahasan lebih banyak ke urusan
perempuannya.
Si Ibu Ratih berkata, dulu ada eranya di mana
perempuan yang sudah menikah saat usia 20 an, maka akan dibilang laku,
hebat, menikah merupakan prestasi. Jadi jika saat itu ada wanita hampir
usia 30 belum menikah, ia akan merasa rendah diri. Tapi sekarang, eranya
sudah bergeser. Wanita lebih memilih menyelesaikan pendidikan
tingginya, lalu bekerja, kemudian menikah. Jadi, deadline menikah mereka
menjadi mundur, nanti saja usia 27 or 28 baru mikir nikah.
Tetapi, ketika usia sudah mencapai angka deadline, jodoh belum teraih,
maka mulailah ia panik. Mengapa? Karena menikah masih dianggap sebuah
pencapaian, sebuah prestasi, dan mungkin sebuah ujung dari kehidupan,
terutama bagi wanita. Kemudian, mereka akan berpikir dari segi
reproduksi, waduh.. gue udah 30 an nih, masih mungkin tidak ya hamil dan
melahirkan? Bukankah resikonya lebih besar. Atau ‘ancaman’ bahwa
perempuan yang belum hamil, melahirkan, dan menyusui di usia resiko itu
akan mudah terkena penyakit kanker payudara dan kanker rahim.
Kalo pria di umur 35 belum nikahpun dia masih tenang-tenang aja, ya
karena masa reproduksi dia masih panjang. Sampai umur 60 juga masih bisa
menghamilin perempuan. Tetapi ada juga pendapat yang mengatakan seorang
Pria di umur 27 tahun belum mempunyai penghasilan, apalagi berumah
tangga, Pria tersebut bisa dibilang Pria yang gagal.
Kemudian
ada beberapa hal lain yang membuat wanita menjadi panik dan parno jika
ia belum menikah di usia 30-an, selain faktor reproduksi dan kesehatan,
yakni: Standar yang sudah ditentukan diri sendiri, bahwa ia harus
menikah di usia 20 an, kemudian tuntutan keluarga terutama dari orang
tua yang menginginkan cucu dan tuntutan lingkungan, dan masalah
pencapaian tadi.
Sehingga jika jodoh belum dating-datang
padanya, maka si wanita lantas menjadi panik, dan seolah ‘kejar
setoran’. Yang di khawatirkan, ia akan bertindak gegabah, hanya
mementingkan emosinya, siapa saja oke deh, yang penting menikah!
Padahal menikah mengandung konsekuensi, kewajiban, dan tanggung jawab
yang tidak mudah dan ringan. Menikah jangan di pikir enaknya aja.
Apa-apa yang bisa dikerjakan saat lajang, belum tentu diperoleh saat
telah menikah. Jika ia menikah karena alasan tidak laku? Dari pada saya
nunggu lagi padahal umur udah segini, dan alasan-alasan lain yang ridak
rasional, di takutkan pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan.
Pertanyaannya, mengapa banyak pria dan wanita masih melajang di usia 27
– 30 tahunan? Karena posisi wanita dan pria sudah semakin meningkat,
semakin seimbang, membuat perempuan mencari teman hidup yang bisa
mengimbanginya. Pendidikan perempuan semakin tinggi, karirnya semakin
berkembang, tapi ia masih menuntut mendapatkan jodoh yang lebih tinggi
dan lebih baik darinya. Sehingga kesempatannya lebih kecil dan ada
anggapan apa, jangan-jangan kualitas pria dan wanita sekarang yang malah
menurun?
Kalau mencari yang setara dan cocok, mungkin
kesempatan itu lebih lebar. Tidak bisa di pungkiri juga, sebagai
lajanger di usia 27 – 30an, kadang malah kita yang di salahin. Kalo
ketemu temen lama yang sudah punya anak dan dia tau kita saya belum
menikah, komentarnya biasanya:
“Kapan lagi nikahnya???”
“Milih-milih kali…”
Menyakitkan memang, di tanya sama teman seperti itu, paling-paling bisa
menjawab dengan “belum sampai aja jodohnya tu” atau “belum ada aja
seorang pria/wanita yang beruntung mendapatkan saya”
Di bilang
pemilih, tidak juga! Setiap orang pasti punya pilihan dan kriteria,
sepanjang masih wajar. Apakah lantas karena usia sudah menginjak angka
27, kita main sabet yang ada di depan mata? Hanya demi menikah di usia
yang kita inginkan? Bagaimana kalo jadinya pernikahan itu nggak membawa
manfaat, hanya membawa mudharat? Nggak ok juga kan?
Misalnya
ada seorang pria begajulan, kelakuannya nggak bener, namun dia cinta
mati sama kita dan ngajak nikah, karena usia sudah parno, lantas kita
terima dia? Begitukah pernikahan?
Ini juga menjadi problem
mengapa pria dan wanita sekarang masih melajang di usia 27 - 30-an.
Kadang kita suka gengsi kalo di carikan atau di jodohkan orang. Seolah
tidak laku, atau tidak punya pilihan sendiri. Padahal cara Islam pun
seperti ini. Saya tidak anti di kenalkan seseorang lewat perantara,
termasuk dari orang tua.
Mbak Ratih juga berkata, open your self. Bergaul dengan banyak orang, banyakin temen.
Setiap proses dengan pria/wanita, jika mengalami kegagalan, sakit hati
lebih ke kasihan kepada orang tua, rasa kecewa. Melihat orang tua
semakin tua, kita semakin takut kehilangan mereka. Waktu dengarin Mamak
ngomong dengan nadanya yang santai, “kapan lagi cari kawan tidur, mamak
sudah tua, tak tau sampai kapan umurnya, nanti tidak ada yang ngurusin”.
Bagaimana perasaan kita???
Jadi, benarkah melajang di usia 27 - 30-an itu adalah sebuah pilihan? Bagaimana dengan pendapat teman-teman sekalian???
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)

Tidak ada komentar :
Posting Komentar